PELAJARAN SELAMA PANDEMI

                                                             Tulisan : Yoni Astuti

 

          Pandemi Covid-19 telah berlangsung setahun lebih. Artinya selama itu pula saya tidak melakukan pekerjaan sebagai Tourist Guide. Wisatawan mancanegara yang saya antar belum ada yang datang. Sebulan atau paling lama tiga bulan tidak bekerja, masih tidak apa-apa. Namun bila lebih dari itu dan pandemi tidak diketahui kapan berakhirnya, tentu membuat saya sangat stress. Tidak bisa keluar rumah, tidak mendapatkan penghasilan, sedih dan prihatin dengan banyaknya orang terpapar Covid-19 hingga meninggal, dan masih banyak hal lainnya. Meskipun sangat stress, saya berusaha kuat untuk mengisi kehidupan dengan sebaik-baiknya, hingga bisa menyadari  ternyata banyak sekali pelajaran selama pandemi yang saya dapatkan. Apa sajakah?

          Saya akan menceritakan beberapa pelajaran selama pandemi dengan mengelompokkan dalam 3 hal. Ketiga hal ini merupakan rezeki dan anugerah yang sangat luar bisa dari Allah SWT. Beruntung sekali telah saya dapatkan.

1.Bisa menulis fiksi dan nonfiksi

          Di awal pandemi, saat itu di Indonesia belum ada orang yang terpapar, namun jadwal tour saya satu persatu dibatalkan. Dimulailah stress saya. Ajakan Reffi untuk belajar menulis Flash Fiction langsung saya terima. Minggu, 23 Februari 2020, bersama 2 teman, saya belajar menulis Flash Fiction di kelas Wordholic.  Itulah pertama kali saya menulis fiksi. Kesannya  istimewa.

          Akhir Maret 2020, saya mengikuti kelas menulis cerpen Padmedia Publisher secara online. Kelas ini gratis, sebagai hadiah dari mbak Wina Bojonegoro bagi pembeli novel terbarunya. Kelas belangsung selama 10 minggu. Di akhir kelas ada tugas menulis cerpen. Tulisan yang lolos kurasi akan diterbitkan dalam buku antologi cerpen. Alhamdulillah tulisan saya lolos. Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini, adalah judul buku kami. Karena merasa telah bisa  sedikit menulis fiksi , beberapa murid ingin belajar lebih dalam. Lalu ada kelas lagi yang berbayar. Seperti sebelumnya, di akhir kelas ada tugas akhir yang dibukukan. Antologi cerpen kedua berjudul Labirin 25.

          Bahagia telah bisa melahirkan dua anak rohani. Keinginan belajar semakin kuat. Teman-teman alumni menulis cerpen tetap saling mendukung. Kami melanjutkan belajar di kelas Intermediate. Saat ini ada dua buku antologi cerpen sedang dalam proses dilahirkan.

          Reffi kembali memberikan kesempatan pada saya untuk belajar menulis Flash Fiction. Murid di kelas pertama dan kedua, diajak membuat buku antologi Flash Fiction, dengan judul Langkah Awal. Anak rohani saya telah bertambah. Bukankan ini anugerah tak terhingga?

          Mbak Dian Rahayu, teman Reffi yang kukenal di kelas Wordholic, mengajak saya menulis bareng di buku antologi kisah inspiratif berjudul Jejak Kehidupan. Saat ini sedang dalam proses dilahirkan.

          Mas Bambang Udoyono, salah seorang Tourist Guide yang bermukim di Jakarta, anggota HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) DKI dan ITMA (Indonesian Tour Leader Muslim Association), pada 15 Maret 2021,  mengajak saya menulis buku tentang 10 destinasi wisata di Indonesia. Penulisan buku ini adalah tugas dari ITMA. Hal utama yang saya dapatkan, adalah bisa belajar menulis nonfiksi dari seorang Penulis Senior dan seorang Asesor Penulisan.

          Menulis nonfiksi sebenarnya telah saya lakukan tahun 2002-2003. Saya  menulis pariwisata di The Jakarta Pos, Tamasya, Jalan-Jalan, Bali&Beyond, dan Magic Wave. Dua buku antologi esai telah saya tulis sebelum pandemi, bersama Padmedia Publisher dengan judul Single Fighter Woman dan Jejak Langkah Puan. Selama pandemi, beberapa kali saya menulis pariwisata di harian Surya dan majalah online Nefertiti.

          Nah, saat ini saya diajak Reffi menulis untuk acara Super Blog Competition. Meski belum bisa menulis di blog, saya bertekad ikut. Siapa tahu banyak hal yang saya dapatkan.  Sebenarnya saya telah belajar content writing di blog dengan Reffi, pada 27 Juli 2019. Namun  blog belum pernah saya isi, mungkin karena saya ini sangat gaptek…jadi tidak percaya diri…hahahaaa.

2.Mempunyai waktu untuk ibu

          Sebagai Tourist Guide, saya banyak beraktifitas di luar rumah. Keluar kota beberapa hari untuk menemani wisatawan mancanegara. Bila bekerja, saya berusaha kuat untuk membuat wisatawan tersebut berbahagia, nyaman, aman, dan mendapatkan banyak pengetahuan khususnya adat istiadat dan budaya. Selama pandemi ini, kesempatan saya  bersama ibu di rumah. Lebih memperhatikan dan membahagiakannya.

3.Lebih ikhlas dan bersyukur

          Hidup dalam keterbatasan selama pandemi, lebih membuka hati dan pikiran saya, untuk ikhlas menerima keadaan ini dan bersyukur atas semua pemberian Allah. Toh yang belum bisa bekerja tidak hanya saya.

        Saya pun lebih bisa menghargai orang lain, keluarga kandung, keluarga lainnya, sahabat, teman, tetangga, dan orang lainnya yang ada di sekitar. Saya menjadi lebih bisa merasakan ikatan persaudaran. Tanpa mereka, saya bukan siapa-siapa.

Asemrowo, 28 Mei 2021.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berwisata Di Gunung Bromo