JENIS PENDIDIKAN
Ditulis oleh: Yoni Astuti
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer atau pokok bagi manusia selain sandang, pangan, papan, dan kesehatan. Bila lima kebutuhan tersebut dipenuhi,kehidupan akan mengalir dengan lebih nyaman dan berdaya guna. Menurut Wikipedia, pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, ketrampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Jenis pendidikan di Indonesia yaitu Pendidikan Formal, Pendidikan Nonformal, dan Pendidikan Informal.
Pendidikan Formal
Pendidikan Formal yaitu pendidikan yang terstruktur dan berjenjang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta.
Pendidikan formal ini terstruktur, jelas pengelolanya, memiliki sistem jelas dan diakui. Sehingga setiap menyelesaikan satuan pendidikan, anak didiknya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal, setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.
Pendidikan di periode Golden Age
Disamping tiga jenis pendidikan di atas, ada juga pendidikan yang secara personal dilakukan di dalam keluarga untuk anak-anak. Salah satunya pendidikan anak di periode golden age, yaitu periode emas di mana otak anak mengalami perkembangan paling cepat dalam kehidupannya, berlangsung sejak anak dalam kandungan hingga usia 5 tahun. Oleh karenanya orang tua harus memanfaatkan periode ini dengan sebaik-baiknya, mengisi otak anak dengan berbagai hal yang bermanfaat. Bagaimana caranya?
Ada berbagai jenis pendidikan untuk mengisi periode emas anak. Dua diantaranya adalah membaca dan berkegiatan di alam. Akan saya ceritakan hasil yang telah didapatkan salah seorang keponakan dan anak teman, dari melakukan dua aktifitas itu.
a.Manfaat membaca
Saya membelikan Felarose, keponakan (anak adik), buku ensiklopedi berjudul Poldi. Sejak ia bayi, kami (ibu, adik, dan saya) membacakan buku tersebut sesuai dengan percakapan yang tertulis. Ia akan meraih buku dan memegangnya disertai ekspresi wajah seakan memahami cerita yang ada. Setiap hari kami bergantian membacakan. Suatu hari, saat telah bisa berbicara, ia mengambil buku dan menceritakan halaman demi halaman seperti bila kami yang menceritakan. Tentu saja kami takjub, karena ia belum bisa membaca, namun bisa menirukan. Artinya bahwa otaknya telah menyerap informasi dengan sangat luar biasa.
Selain menirukan bercerita, ia pun memulai memegang pena dan mencoret lalu menggambar. Sekitar usia 3 tahun ia telah bisa menggambar kartun. Ada dua hal yang mempengaruhinya. Gambar di buku Poldi dan film kartun yang dilihatnya di TV. Karakter gambar yang dibuat berkembang sesuai dengan usianya. Terkadang ia membuat komik pendek.
Usianya kini 14 tahun. Menggambar tetap dilakukan. Saat ini mempunyai kegiatan baru, membaca novel berbahasa Inggris dan juga menulis novel dalam bahasa Inggris. Sejak awal pandemi ia pandai mengisi harinya. Disamping menggambar dan menulis, juga mengasah kemampuannya bercakap bahasa Inggris.
b.Manfaat berkegiatan di alam
Teman saya, suami-istri, mempunyai kegemaran mendaki gunung. Sejak bayi, putri semata wayang mereka, Anjani, sering diajak bepergian. Tanggal 14-15 November 2020, saya mempunyai kesempatan naik Gunung Penanggungan bersama Anjani dan ayahnya, serta teman-teman lainnya. Ibunya Anjani tidak ikut. Di dalam perjalanan, banyak hal yang ditanyakannya. Apa ini. Apa itu. Mengapa begini. Mengapa begitu. Senang sekali melihatnya sangat antusias meraup semua hal yang dilihat dan dirasakannya. Melalui jam tangan, ia berbicara dengan ibunya. Menceritakan pengalaman yang didapat.
Saat naik gunung bersama, Anjani berusia 5,5 tahun. Ia dapat berjalan di jalan setapak berbatu dan tanjakan yang lumayan sulit, dengan mudah dan tidak rewel. Hal ini menandakan bahwa tubuhnya telah terlatih dengan baik, karena sejak ia dapat berjalan telah terbiasa menapakkan kaki di alam. Rasa ingin tahu yang besar tentang alam sekitar, juga karena sejak bayi ia sering diajak bepergian.
Senang bisa naik gunung dengan Anjani, meski terkadang harus memeras otak saat menjawab semua pertanyaannya…hahahaaa…
Asemrowo, 24 Mei 2021
Komentar
Posting Komentar