PENGALAMAN MEMAAFKAN DALAM HENING
Tulisan: Yoni Astuti
Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang sempurna. Semuanya pasti pernah membuat kesalahan, meski hanya sebutir debu. Agar dapat hidup berdampingan dengan baik, manusia perlu saling memahami, menyesuaikan diri, meminta maaf, dan memaafkan. Meminta maaf sedikit lebih mudah daripada memaafkan, karena bisa saja yang penting meminta, dimaafkan syukur dan gak dimaafkan ya sudah. Memaafkan sedikit lebih sulit, karena di dalam hati sebaiknya benar-benar ikhlas. Setiap manusia mempunyai pengalaman memaafkan yang berbeda, tergantung besar kesalahan yang telah dilakukan padanya.
Berbagai cara memaafkan dapat dilakukan, baik dengan diucapkan maupun tidak, tergantung dengan situasi yang ada. Saya akan berbagi pengalaman memaafkan kesalahan yang telah diperbuat orang lain. Kesalahan yang disengaja maupun tidak.
Kesalahan yang disengaja
Ada orang yang senang bergosip. Ia menganggap dirinya yang paling sempurna. Orang lain tidak ada yang boleh melebihinya. Apakah saya pernah digosipin oleh orang yang mempunyai sifat seperti ini? Tentu saja pernah, bahkan sering…haha…
Bagi saya, sangat tidak penting meladeni orang seperti ini. Bila marah padanya, tidak ada gunanya, akan menghabiskan energi. Ia akan girang karena berhasil melukai dan semakin gencar menggosipkan. Apakah perbuatannya merugikan saya? Tentu saja. Karena ada saja orang yang menelan semua gosip tanpa mencari tahu kebenarannya. Bila saya bertemu dengannya, akan bersikap seakan ia tidak pernah membuat gosip tersebut. Tetap menyapa dan berbincang seperlunya tanpa kesan merendahkan diri.
Kesalahan yang tidak disengaja
Suatu saat salah seorang sahabat berjanji bila ke Tumpang Malang untuk mengunjungi rumah salah satu sahabat kami, akan mengajak saya. Ternyata ia berangkat sendiri bersama sahabat lainnya. Saat di rumah sahabat di Tumpang, ia vidcall. Terlihat keceriaan para sahabat. Saya pun bertanya, mengapa tidak diajak. Ternyata kedua sahabat saya yang sebelumnya naik motor masing-masing ke Bromo berangkat lewat Probolinggo, mendadak ingin meneruskan perjalanan pulang lewat lautan pasir dan Tumpang Malang. Ia meminta maaf. Saya pun dengan senang hati memberikan maaf.
Memaafkan dalam hening
Telah saya tulis di atas, ada dua cara memaafkan. Diucapkan atau tidak. Memaafkan dalam hening sama dengan memaafkan tanpa mengucapkan dan mempunyai arti lebih dalam. Terkadang orang yang membuat kesalahan baik disengaja maupun tidak, akan merasa gengsi bila meminta maaf. Demi sebuah hubungan pertemanan, persahabatan, dan persaudaraan – saya membiasakan diri untuk memaafkan semua kesalahan orang tersebut dari lubuk hati terdalam. Apakah ini mudah? Oh…tidaaaak. Sangat sulit. Apalagi bila kesalahan yang diperbuat orang tersebut sudah dilakukan berpuluh tahun, tanpa pernah merasa telah merugikan saya materiil maupun immateriil.
Hening kala memaafkan, melatih diri saya untuk lebih ikhlas menerima perbuatan seseorang yang melakukan kesalahan pada saya. Kemungkinan Allah menginginkan saya untuk naik kelas. Kemungkinan pula saya kurang bersedekah dan membantu orang lain. Bila suatu saat saya berada di dalam sebuah situasi yang sangat tidak menyenangkan, ada orang yang marahnya tidak jelas untuk apa dan ditujukan pada siapa, maka saya akan meminta pikiran dan hati untuk tenang dan memaafkan orang tersebut sekaligus meminta maaf pada Allah atas semua kesalahan saya di masa lalu.
Pernah terpikir untuk apa saya memaafkan orang yang tidak merasa melakukan kesalahan, apalagi meminta maaf. Sedangkan akibat yang ditimbulkannya, membuat hati saya berdarah-darah. Saya kembalikan pada niat saya untuk hening. Meski telah memaafkan, bukan berarti menyediakan diri untuk tetap rela disakiti. Sikap waspada harus diperkuat.
Memaafkan dalam hening membuat jiwa dan raga semakin sehat. Rezeki pun mengalir dengan lebih lancar dan berkah. Saat menulis ini, ada kabar bahwa almari perlengkapan mendaki gunung milik saya dan teman-teman yang kami taruh di rumah teman di desa ada yang membobol. Rumah tersebut kosong, karena penghuninya lebih banyak berada di Surabaya. Ada tenda dan sleeping bag hilang. Pencuri sudah kami ketahui. Teman sendiri. Secara hening saya memaafkan. Namun kami tetap membawa masalah ini ke jalur hukum. Melaporkan ke perangkat desa dan Polsek.
Asemrowo, 26 Mei 2021.
Komentar
Posting Komentar