ALASAN MEMBACA BUKU

 

ALASAN MEMBACA BUKU

                                              Tulisan: Yoni Astuti

          Suatu saat di awal menjadi Tourist Guide, tahun 1988, saya mengantar rombongan wisatawan nusantara ke Jakarta. Setelah makan siang, sambil menunggu wisatawan masuk ke dalam bis, saya  membaca buku percakapan bahasa Prancis. Seorang wisatawan, lali-laki, menghampiri dan menanyakan apa yang saya baca.

“ Kamu bekerja sebagai guide untuk mencari biaya kuliah bahasa Prancis?” tanyanya.

“ Tidak Pak. Saya sudah sarjana, dibiayai orang tua,” jawab saya tenang meski sebenarnya tidak suka dengan isi pertanyaan dan caranya berbicara.

“Lalu apa alasan membaca buku itu?”

“Oh, saya sedang kursus bahasa Prancis.”

          Pertanyaan laki-laki itu masih teringat dengan baik hingga saat ini. Sebenarnya ia bertanya karena menghargai saya  membaca buku atau karena iba dengan penampilan saya yang dianggap seperti orang miskin, atau bahkan karena memandang pekerjaan sebagai Tourist Guide itu rendah. Whatever…apapun itu…tidak akan saya izinkan melukai perasaan. Malahan akan saya jadikan salah satu penyemangat. Saya harus lebih memperhatikan penampilan agar tidak diremehkan orang. Saya harus lebih banyak belajar tentang sejarah, adat istiadat, budaya, kearifan lokal, dan apapun yang berkaitan dengan pariwisata. Agar bisa menjelaskannya kepada wisatawan yang sedang saya temani berwisata, dengan harapan mereka lebih memahami dan memotivasi orang lain datang ke Indonesia. Juga memperdalam bahasa Inggris, agar bisa menjelaskan dengan lancar dan benar. Sedangkan bahasa Prancis, hingga saat ini saya masih belum percaya diri untuk bercakap…haha…kasihan ya.

          Bila ke toko buku, langkah saya yang utama menuju rak yang berisikan buku-buku pariwisata dan budaya. Saya akan membeli yang benar-benar diperlukan dan tentu saja disesuaikan dengan isi dompet. Namun terkadang, meski mahal saya beli juga, karena isi buku sangat penting.

          Kini lemari buku saya lebih banyak berisikan buku-buku pariwisata dan budaya. Buku lainnya tentang agama, kesehatan, majalah pariwisata, pelajaran bahasa Inggris dan Prancis, kamus Inggris dan Prancis, dan beberapa lainnya seperti buku saat kuliah. Ohya, ada tambahan buku baru. Karena sejak akhir Maret 2020 saya belajar menulis fiksi, jadi membeli beberapa kumpulan cerpen dan novel karya teman-teman dan para mentor. Pesan para mentor, harus banyak membaca karya penulis lain, untuk menambah pengetahuan menulis.

          Buku-buku yang telah saya beli, apakah semuanya dibaca? Jujur, ada yang belum. Bahkan beberapa masih terbungkus plastik. Biasanya bila ada diskon besar-besaran dari toko buku, terkadang harganya hanya 10k, saya akan memborongnya. Sesampai di rumah langsung masuk ke lemari buku dan lupa membacanya. Buku, maapkanlah saya….

          Saya suka membaca buku sejak SMP. Kesukaan saya bertambah sejak menjadi Tourist Guide. Rasanya tidak enak bila tidak membaca − bisa koran atau surat kabar, majalah, internet, whatsApp, dan buku. Meskipun buku tidak saya baca setiap harinya, namun tetap menjadi hal penting yang harus dilakukan. Bahkan terkadang satu buku bisa saya baca berulangkali. Alasan membaca buku lebih dari sekali, karena bisa saja ada hal baru yang saya dapatkan. Misalnya, saya akan menemani wisatawan ke Gunung Bromo. Agar bisa menjelaskan Pura Hindu dan Padmasari, saya akan membaca buku tentang hal tersebut. Bukunya saya beli di sebuah toko buku di Denpasar. Apakah membaca sekali akan bisa mengingat selamanya? Ahaaa…saya manusia biasa yang sering lupa. Garis besarnya saya ingat, namun detailnya ada saja yang lupa. Itulah sebabnya harus membaca ulang. Karena saat membaca sebelumnya mungkin ada yang terlewatkan, dan baru dimengerti saat  membacanya kembali.

          Kini ada e-book. Memang praktis. Tidak memerlukan lemari buku yang besar untuk menyimpan ratusan atau bahkan ribuan e-book. Bila bepergian bisa membacanya tanpa membawa beban berat di dalam tas. Namun bila sedang di rumah, buku yang bisa dipegang masih menjadi prioritas. Karena bisa membaca sambil membaui aroma kertas buku, dan tidak membuat mata lelah karena sinar yang terpancar di gawai.

          Wisatawan yang saya temani sebagian besar dari mancanegara. Meski berwisata, kebanyakan dari mereka membawa buku yang dibaca saat santai di kolam renang hotel, di pantai sambil berjemur, dan  di perjalanan. Saya pun membawa buku yang saya baca saat istirahat di penginapan, atau saya tunjukkan ke wisatawan − khususnya buku tentang adat istiadat dan budaya. Kami membahas adat istiadat dan budaya yang ditulis di buku itu. Biasanya akan dilanjutkan dengan membahas adat istiadat dan budaya lainnya yang ada di Indonesia maupun yang ada di negara tempat tinggalnya.

 Asemrowo, Sabtu Pon 22 Mei 2021.

Komentar

  1. Wah, mantap Mbak Yoni...
    Sama nih, saya jg biasanya kalap kalo ada diskonan buku, banyak yang ingin dibeli, tapi kecepatan membaca tidak bisa mengimbangi. Hehe.

    BalasHapus
  2. Jadi keinget buku yang masih bungkusan plastik huhu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berwisata Di Gunung Bromo